Sabtu, 10 Maret 2012
Posted by Unknown
No comments | 8:21:00 PM
I ngîl cennin erthiel
Ne menel aduial,
Ha glingant be vîr
Síliel moe.
I ngîl cennin firiel
Ne menel aduial,
And-dúr naun i fuin a galad firn
Naegriel moe.
An i natha
An i naun ului
A chuil, ann-cuiannen
Am meleth, perónen.
Senin, 13 Februari 2012
Posted by Unknown
No comments | 12:52:00 PM
Shall I compare thee to a summer's day?
Thou art more lovely and more temperate:
Rough winds do shake the darling buds of May,
And summer's lease hath all too short a date:
Sometimes too hot the eye of heaven shines,
And too often is his gold complexion dimm'd:
And every fair from fair sometimes declines,
By chance or natures changing course untrimm'd;
By thy eternal summer shall not fade,
Nor lose possession of that fair thou owest;
Nor shall Death brag thou wander'st in his shade,
When in eternal lines to time thou growest:
So long as men can breathe or eyes can see,
So long lives this and this gives life to thee.
― William Shakespeare, Shakespeare's Sonnets
Rabu, 25 Januari 2012
Posted by Unknown
No comments | 8:27:00 PM
Jumat, 23 Desember 2011
Posted by Unknown
No comments | 5:03:00 PM
Ada hati yang dibawa oleh masa yang telah lalu. Ada rindu yang tertanam dari hati yang mati. Ada jiwa, yang bertahun merenung dalam kesendirian yang fana. Sementara diri masih saja mencari jawab atas pertanyaan yang harusnya semua orang tahu, namun tak ada yang tahu, bahkan diri sendiri:
Siapakah aku?
Aku terlahir jauh sebelum diriku ada, sebelum kerak bumi ini mengering dan mendingin dari api menjadi tanah dan batu, sebelum mentari, Proxima centauri, Sirius, ataupun bahkan Epsilon eridani mulai berputar di orbitnya mengelilingi Supermasive black hole.
Aku hanyalah aku yang ada, sebuah eksistensi tak nyata dari impian dan fantasi yang mencapai puncak imaji, yang kemudian membangkitkan halusinasi 'pre-psikotik', yang acap kali didefinisikan sebagai 'gila' oleh kebanyakan manusia, namun terkadang disebut 'genius' oleh sebagian lainnya.
Aku cuma aku yang disini, sebuah jati diri tak tertemukan yang mendobrak masuk kedalam kepribadian yang sederhana, menjadikan apa yang disebut 'jiwa' menjadi kompleksitas yang tak terpecahkan, bahkan oleh ilmu apapun.
Dan bahkan kompleksitas tak terjawab itu harus dibuat menjadi lebih kompleks lagi oleh kehadiranmu. Kehadiran yang entah kuharap atau tidak, mengusik kesederhanaan yang lama kupupuk dan kemudian membangkitkan aku yang baru, ya, aku dengan segala kerumitannya yang ruwet.
Namun saat kulihat wajahmu di hari ini, ada hal yang entah mengusik batinku atau batinmu, membuatku ragu, dan mungkin ironisnya membuatku semakin membencimu saat ini.
Kulihat diriku sendiri, kulihat aku, jauh terbenam dalam eksistensi yang kembali tak ku tahu.
Siapakah aku?
Sebuah misteri yang tak pernah terpecahkan, olehku ataupun engkau.
Namun saat kulihat wajahmu di hari ini, ada hal yang entah mengusik batinku atau batinmu, membuatku ragu, dan mungkin ironisnya membuatku semakin membencimu saat ini.
Kulihat diriku sendiri, kulihat aku, jauh terbenam dalam eksistensi yang kembali tak ku tahu.
Siapakah aku?
Sebuah misteri yang tak pernah terpecahkan, olehku ataupun engkau.
Dan cerita tentang diriku, aku, dan mungkin tentang dirimu, dan kompleksitas yang ada dan kau bawa, tak akan berakhir di sini. Walaupun sepertinya kau bahkan tak menyadari bahwa diriku dan 'aku' benar-benar ada dan nyata, tak hanya sekedar bayang-bayang dari rona muka yang tak lagi kau kenal.
Untukmu, wajah yang kubenci,.. dan kurindu.
Kamis, 22 Desember 2011
Posted by Unknown
No comments | 12:23:00 PM
Dalam ranah yang mereka sebut keabadian
Aku bersemayam bersama ingatan tentang kalian
Kudekap dan kuucap namamu satu demi satu
Sebelum lautan cahaya melarutkan kita dan waktu
Walau tiada aksara di sana
Walau tiada wujud yang serupa
Tanpa pernah tertukar aku menemukanmu semua
Sebagaimana engkau semua menemukanku
Empat, lima, dan enam
Berapapun banyaknya kita tersempal
Perlahan lebur menjadi tunggal
Dua, satu, dan kosong
Bersama kita lenyap menjadi tiada
Aku bersemayam bersama ingatan tentang kalian
Kudekap dan kuucap namamu satu demi satu
Sebelum lautan cahaya melarutkan kita dan waktu
Walau tiada aksara di sana
Walau tiada wujud yang serupa
Tanpa pernah tertukar aku menemukanmu semua
Sebagaimana engkau semua menemukanku
Empat, lima, dan enam
Berapapun banyaknya kita tersempal
Perlahan lebur menjadi tunggal
Dua, satu, dan kosong
Bersama kita lenyap menjadi tiada
Sabtu, 29 Oktober 2011
Posted by Unknown
4 comments | 9:26:00 PM
Barusan membaca National Geographic edisi november, dan membahas Anglo-Saxon dan peninggalannya di Staffordshire. Mungkin ada yang belum tau sejarah dan definisi dari Anglo-Saxon, berikut sekilas tentang mereka.
Anglo-Saxon adalah istilah yang digunakan oleh para sejarawan untuk menunjuk suku-suku Jerman yang menduduki selatan dan timur Britania Raya dimulai pada awal abad ke-5,dan periode dari pembentukan dari bangsa Inggris sampai penaklukan Normandia. Era Anglo-Saxon menunjukkan periode sejarah Inggris antara sekitar 550 dan 1066 Masehi. Istilah ini juga digunakan untuk bahasa yang kini disebut Inggris Kuno, diucapkan dan ditulis oleh Anglo-Saxon dan keturunan mereka.
Posted by Unknown
2 comments | 7:26:00 PM
Baru-baru ini, astronom Teleskop Antariksa Hubble memfokuskan diri untuk mengamati sepasang galaksi yang dikenal dengan Arp 273. Pasangan galaksi tersebut membuat mereka membayangkan sebuah benda terestrial, yang sureal, yaitu mawar.
Gambar diatas menunjukan interaksi yang terjadi beberapa ratus juta tahun yang lalu, saat galaksi yang lebih rendah, dikenal dengan nama UGC 1813, meluncur lewat "lengan luar" galaksi yang lebih tinggi, yaitu UGC 1810. Lengan-lengan galaksi yang lebih besar terentang akibat tarikan gravitasional dari galaksi yang lebih kecil, membuat mereka seolah-olah nampak seperti kelopak mawar yang sedang mekar.
Menurut astronom, galaksi-galaksi bakal bertumbukan suatu saat dalam hidup mereka. Seringkali dua galaksi yang berdekatan menyatu setelah saling mengorbit selama 500 juta tahun, sebuah romansa di nirwana yang bisa kita lihat sendiri.
Source: National Geographic - Gretchen Parker
![]() |
| "Galaksi Mawar", atau Arp 273, berjarak lebih dari 300 juta tahun cahaya dari bumi, di konstelasi Andromeda. |
Gambar diatas menunjukan interaksi yang terjadi beberapa ratus juta tahun yang lalu, saat galaksi yang lebih rendah, dikenal dengan nama UGC 1813, meluncur lewat "lengan luar" galaksi yang lebih tinggi, yaitu UGC 1810. Lengan-lengan galaksi yang lebih besar terentang akibat tarikan gravitasional dari galaksi yang lebih kecil, membuat mereka seolah-olah nampak seperti kelopak mawar yang sedang mekar.
Menurut astronom, galaksi-galaksi bakal bertumbukan suatu saat dalam hidup mereka. Seringkali dua galaksi yang berdekatan menyatu setelah saling mengorbit selama 500 juta tahun, sebuah romansa di nirwana yang bisa kita lihat sendiri.
Source: National Geographic - Gretchen Parker
Jumat, 05 Agustus 2011
Posted by Unknown
No comments | 4:32:00 PM
anginmu berhembus kembali,..
entah ada apa gerangan,...
yang pasti di sini ku tetap berdiri menyambut sayup pagi yang menjelang di benakku,
membawa sejuta keindahan dalam angan yang dinanti,
sementara di sini masih saja sepi,
diantara harap tak berarti...
lalu kupejamkan mataku,
dan kudengarkan fragment fragment masa yang mengalun kembali ke asal nya.,
entah ada apa gerangan,...
yang pasti di sini ku tetap berdiri menyambut sayup pagi yang menjelang di benakku,
membawa sejuta keindahan dalam angan yang dinanti,
sementara di sini masih saja sepi,
diantara harap tak berarti...
lalu kupejamkan mataku,
dan kudengarkan fragment fragment masa yang mengalun kembali ke asal nya.,
dan akhirnya, kututup buku tentang takdir yang kugenggam,.
tentang langit, bintang, dan cahaya rembulan yang menghanyutkanku dalam rinduannya,
lalu kusimpan dalam memori yang tak terhapuskan...
(08.06.11:03.36)
tentang langit, bintang, dan cahaya rembulan yang menghanyutkanku dalam rinduannya,
lalu kusimpan dalam memori yang tak terhapuskan...
(08.06.11:03.36)
Posted by Unknown
No comments | 4:24:00 PM
Alam membawaku kembali dalam kedamaian dan ketentraman jiwa.
Angin menyejukkan hatiku yang beku,..
deburan air di telaga membasuh jiwaku yang hampa,
dan suara derap kaki kuda ku kembalikan langkah langkahku tuk tempuh jalan kehidupan...
(08.11.07:23.41)
Angin menyejukkan hatiku yang beku,..
deburan air di telaga membasuh jiwaku yang hampa,
dan suara derap kaki kuda ku kembalikan langkah langkahku tuk tempuh jalan kehidupan...
(08.11.07:23.41)
Posted by Unknown
No comments | 4:17:00 PM
Aku berjalan,.....
terus berjalan menelusuri padang luas memori masa laluku, yang hampir terhapus bersama gulir waktu.
Di depan kulihat sebuah cahaya, lebih terang dari mentari, namun lebih sejuk dari embun pagi.
Aku mendekat, lalu ku lihat dia, rembulan yang selalu ku rindu,
dan dalam cahaya dia berdiri, tersenyum, kepadaku..
dan kulihat disampingnya, sang Jibril, sang Ruhul Kudus,
yang kemudian berkata kepadaku,
"Ku sampaikan hidup dan kenangan yang diberikanNya padamu, dan padanya yang kau cinta.
Dan takdir kalian telah ditentukan sejak sebelum hari penciptaan dunia.."
Kemudian dia terbang tinggi, menembus langit ke tujuh.
Tinggalkanku dan rembulan dalam cahaya suci.
dan kembali, jiwaku bersemayam dalam cahaya illahi.....
(07.29.07:07.37)
terus berjalan menelusuri padang luas memori masa laluku, yang hampir terhapus bersama gulir waktu.
Di depan kulihat sebuah cahaya, lebih terang dari mentari, namun lebih sejuk dari embun pagi.
Aku mendekat, lalu ku lihat dia, rembulan yang selalu ku rindu,
dan dalam cahaya dia berdiri, tersenyum, kepadaku..
dan kulihat disampingnya, sang Jibril, sang Ruhul Kudus,
yang kemudian berkata kepadaku,
"Ku sampaikan hidup dan kenangan yang diberikanNya padamu, dan padanya yang kau cinta.
Dan takdir kalian telah ditentukan sejak sebelum hari penciptaan dunia.."
Kemudian dia terbang tinggi, menembus langit ke tujuh.
Tinggalkanku dan rembulan dalam cahaya suci.
dan kembali, jiwaku bersemayam dalam cahaya illahi.....
(07.29.07:07.37)
Selasa, 05 Juli 2011
Posted by Unknown
No comments | 6:37:00 AM
Malam ini, angin kembali memanggilku dengan bahasa yang tak pernah kudengar, tetapi anehnya dapat dengan jelas kumengerti.
Tetapi entah mengapa, kaki ini masih enggan beranjak. Jiwaku tetap berdiam di sini, di dalam kelam yang tak tersentuh oleh cahaya apapun, kecuali cahaya-Nya....
(07.28.07:23.00)
Tetapi entah mengapa, kaki ini masih enggan beranjak. Jiwaku tetap berdiam di sini, di dalam kelam yang tak tersentuh oleh cahaya apapun, kecuali cahaya-Nya....
(07.28.07:23.00)
Sabtu, 02 Juli 2011
Posted by Unknown
No comments | 10:32:00 PM
Kosong,........
tak ada kata dalam pikiranku kali ini. Sehampa padang pasir putih kesunyian yang kutempuh seharian ini.
Aku berjalan dalam dahaga, bersama kesendirianku di bawah bayang-bayang langit.
Kulihat Sang Mentari, menatapku dengan matanya yang tajam.
Entah kenapa, dia berkata,
"Kau seperti diriku, yang menyinarii jagad dengan cahaya yang menyilaukan."
Aku tersenyum kecil, dan berkata padanya,
"Tidak, aku tak seperti engkau. Bagaimana aku bisa bersinar, jika jiwaku sendiri tenggelam dalam kegelapan?"
Dia kembali berkata padaku,
"Kau seperti diriku. Jiwaku bersemayam di langit biru, dan sang waktu berjalan beriringan denganku, begitu juga kau."
Aku kembali tersenyum, dan berkata,
"Tidak, aku sama sekali tidak seperti engkau. Karena jiwaku tak pernah bersemayam dimanapun, sejak waktu berlari meninggalkanku."
Tak terduga, sang Surya pun tersenyum padaku kali ini, dan berkata,
"Aku seperti dirimu, wahai angin... Karena hatiku pun terpagut pada rembulan, yang selalu bersembunyi dalam kelam malam yang tak pernah dapat kudatangi."
Aku tertegun, terdiam sejenak, merenungi dan menyadari betapa kemiripanku denan angin dan mentari. Sementara tatapannya berubah dari tajam menjadi khidmat.
Kemudian kami berseru bersama, dengan suara yang mengguncang semesta,
"Aku dan rembulan adalah kekasih, meskipun kebersamaan kami hanya sebatas dalam kegelapan gerhana yang membutakan mata."
(07.27.07:22.12)
Rabu, 29 Juni 2011
Posted by Unknown
No comments | 9:37:00 PM
Masih dapat kurasakan getaran-getaran nya merasuk dalam jiwaku,
kurasakan semangat hidupnya dalam api yang berkobar di kelam malam ini.
Kemudian aku menengadah, berseru pada langit hitam yang memayungi diriku,
"Angin telah membawakanku kabar tentang Rembulan yang bersemayam dalam kelam sanubarimu, dengan hembusan nafasnya yang dingin dan membekukan.
Maka sekarang ku berdoa pada Penciptamu, semoga sinarnya tak pernah padam, dan kasihnya tak pernah mati, tuk selamanya..."
Malam bernyanyi untukku, dan dalam liriknya kudengar untaian kata-kata abadi, kata-kata yang mampu menyejukkan hatiku dengan kesunyiannya, kata-kata yang mampu membasuh jiwaku dengan kedamaiannya.
(07.26.07:23.40)
kurasakan semangat hidupnya dalam api yang berkobar di kelam malam ini.
Kemudian aku menengadah, berseru pada langit hitam yang memayungi diriku,
"Angin telah membawakanku kabar tentang Rembulan yang bersemayam dalam kelam sanubarimu, dengan hembusan nafasnya yang dingin dan membekukan.
Maka sekarang ku berdoa pada Penciptamu, semoga sinarnya tak pernah padam, dan kasihnya tak pernah mati, tuk selamanya..."
Malam bernyanyi untukku, dan dalam liriknya kudengar untaian kata-kata abadi, kata-kata yang mampu menyejukkan hatiku dengan kesunyiannya, kata-kata yang mampu membasuh jiwaku dengan kedamaiannya.
(07.26.07:23.40)
Posted by Unknown
No comments | 9:10:00 PM
Tak ada kata yang bisa terucap,
Aku melihatnya, kematian dan kegelapan, menyelubungi waktu yang berjalan bersamaku.
Masih kuingat dalam benakku, bisikan angin tentang diriku. Dia berkata,
"Aku adalah jiwamu, yang memberikan harapan dan impian bagimu; yang menumbuhkan rasa dalam hatimu; dan, membuaimu dengan mimpi-mimpi lelapmu."
Aku tanya dia,
"Jika kau adalah jiwa, maka tahukah kau tentang luka yang lebih dari kematian? Tahukah kau tentang harapan akhir sebuah kalbu dalam derita?"
Angin, sang Jiwa, pun terdiam sejenak, lalu berkata dengan suara gemuruh bak badai,
"Luka dan harapanmu adalah satu. Dan keduanya adalah cermin dari cintamu yang bersemayam dalam nuranimu yang terdalam; Dan aku adalah jiwamu, yang memberi ketenangan dan ketentraman, sekaligus luka dan derita atas rasa pada dirimu."
Aku menengadah, memandang langit dimana bulan seharusnya berada;
Namun hanya langit malam kelam menyelubungiku,
membayangi dengan bayang keabadiannya......
(07.19.07:23.02)
Aku melihatnya, kematian dan kegelapan, menyelubungi waktu yang berjalan bersamaku.
Masih kuingat dalam benakku, bisikan angin tentang diriku. Dia berkata,
"Aku adalah jiwamu, yang memberikan harapan dan impian bagimu; yang menumbuhkan rasa dalam hatimu; dan, membuaimu dengan mimpi-mimpi lelapmu."
Aku tanya dia,
"Jika kau adalah jiwa, maka tahukah kau tentang luka yang lebih dari kematian? Tahukah kau tentang harapan akhir sebuah kalbu dalam derita?"
Angin, sang Jiwa, pun terdiam sejenak, lalu berkata dengan suara gemuruh bak badai,
"Luka dan harapanmu adalah satu. Dan keduanya adalah cermin dari cintamu yang bersemayam dalam nuranimu yang terdalam; Dan aku adalah jiwamu, yang memberi ketenangan dan ketentraman, sekaligus luka dan derita atas rasa pada dirimu."
Aku menengadah, memandang langit dimana bulan seharusnya berada;
Namun hanya langit malam kelam menyelubungiku,
membayangi dengan bayang keabadiannya......
(07.19.07:23.02)
Jumat, 24 Juni 2011
Posted by Unknown
No comments | 10:09:00 PM
Pagi itu, ku bertemu kembali dengan rembulan. Dia mengingatkanku pada hari esok, saat kegelapan kan datang kepadaku.
Aku pun tertegun, mataku menerawang...
Lalu aku pun bertanya kepadanya,
"Akankah kau juga di sana menemaniku? Ketika nanti kegelapan menjemputku?"
Dia terdiam...
Aku berkata,
"Sinarilah aku, wahai cahaya suci rembulan, berilah cahaya pada setiap malam-malam kelam yang kan kulewati."
Dia masih tetap terdiam..
Seribu kesunyian mencekam kami. Kulihat kebimbangan di mata nya, namun kurasakan keteguhan dalam jiwa nya. Dan dalam hatinya kudengar nyanyian untuk Tuhan, dan doa-doa yang terpanjat dari nurani nya.
Lalu dia tersenyum padaku, dengan kelembutan cahaya yang melebihi batas-batas perasaan,.
Dan dia berkata,
"Takdir Tuhan telah bicara,......"
Lalu dia menghilang, berganti kabut kelabu yang mulai merayap dalam jiwaku; dan kebekuan pun mulai merangkul hatiku.
Kuseru namanya, tapi hanya kesunyian dan kelam malam yang menghampiriku.
Aku pun terpuruk, jatuh ke dalam bayang-bayang..
Aku pun tertegun, mataku menerawang...
Lalu aku pun bertanya kepadanya,
"Akankah kau juga di sana menemaniku? Ketika nanti kegelapan menjemputku?"
Dia terdiam...
Aku berkata,
"Sinarilah aku, wahai cahaya suci rembulan, berilah cahaya pada setiap malam-malam kelam yang kan kulewati."
Dia masih tetap terdiam..
Seribu kesunyian mencekam kami. Kulihat kebimbangan di mata nya, namun kurasakan keteguhan dalam jiwa nya. Dan dalam hatinya kudengar nyanyian untuk Tuhan, dan doa-doa yang terpanjat dari nurani nya.
Lalu dia tersenyum padaku, dengan kelembutan cahaya yang melebihi batas-batas perasaan,.
Dan dia berkata,
"Takdir Tuhan telah bicara,......"
Lalu dia menghilang, berganti kabut kelabu yang mulai merayap dalam jiwaku; dan kebekuan pun mulai merangkul hatiku.
Kuseru namanya, tapi hanya kesunyian dan kelam malam yang menghampiriku.
Aku pun terpuruk, jatuh ke dalam bayang-bayang..
Dan aku kembali bertanya-tanya tentang arti kehidupan......
(07.17.07:08.49)
Posted by Unknown
No comments | 10:09:00 PM
Tangan ini bergerak, gemetar, menyingkap sampul lusuh buku takdir masa lalu yang lama tak terbuka..
Kemudian dari wajah wajah halamannya tersembul fragmen-fragmen waktu yang tlah berlari, berhembus bersama ku dulu...
Ah, ku terdiam menatapmu saja.
...................
Senin, 30 Mei 2011
Posted by Unknown
No comments | 11:46:00 AM
Jumat, 27 Mei 2011
Posted by Unknown
No comments | 8:46:00 AM
There is good and there is evil. Right and wrong. Heroes and villains.
And if we're blessed with wisdom, then there are glimpses between the cracks of each where light streams through.
We wait in silence for these times when sense can be made, when meaningless existence comes into focus, and our purpose presents itself.
And if we have the strength to be honest, then what we find there, staring back at us, is our own reflection, bearing witness to the duality of life.
And each one of us is capable of both the dark and the light, of good and evil, of either, of all.
And destiny, while marching ever in our direction, can be rerouted by the choices we make.
By the love we hold onto, and the promises we keep.
And if we're blessed with wisdom, then there are glimpses between the cracks of each where light streams through.
We wait in silence for these times when sense can be made, when meaningless existence comes into focus, and our purpose presents itself.
And if we have the strength to be honest, then what we find there, staring back at us, is our own reflection, bearing witness to the duality of life.
And each one of us is capable of both the dark and the light, of good and evil, of either, of all.
And destiny, while marching ever in our direction, can be rerouted by the choices we make.
By the love we hold onto, and the promises we keep.
Jumat, 06 Mei 2011
Posted by Unknown
No comments | 9:13:00 AM
Anyone love classics??
Coba dengerin salah satu karya vivaldi ini.
SAlah satu di now playing list saya.
Hehehe...
Have fun!!!
Jumat, 29 April 2011
Posted by Unknown
No comments | 9:52:00 AM
Entah hijau, entah coklat muda. Belum pernah kulihat bola mata berwana hijau, jadi tidak bisa terlalu yakin. Dan tempat ini didesain dengan penerangan yang buruk. Remang yang malah tidak romantis. Remang yang membuat segalanya tidak jelas. Namun hanya tempat ini yang masih buka.Hiburan yang tersedia adalah tayangan pertandingan sepak bola dini hari dari televisi 14 inci dan kumandang lagu disko era satu dekade silam serta kerlap-kerlip bohlam warna-warni yang sebaiknya jangan dilihat lebih dari satu menit karena membuat mata sakit.
Tinggal empat manusia yang tersisa, dan satu diantaranya. Karenanya aku bertahan. Satu-satunya betina yang menguapkan feromon di sekumpulan makhluk jantan. Secara alamiah tak mungkin aku dilewatkan. Namun mereka malas menggubris karena tidak pernah ada pembicaraan menarik keluar dari mulutku sejak hari pertama kami semua berkenalan. Sementara aku tetap menyandang status “kenalan“, mereka sudah menjadi tiga serangkai - sahabat temporer yang dikondisikan waktu dan tempat. Aku merasa tidak rugi. Yang menarik dari mereka hanyalah dia. Dan dia bukanlah pembicaraan. Dia adalah tujuan. Tujuan bertahan.
Langganan:
Postingan (Atom)


